![]() |
| Murid di kelas 7 |
Coba perhatikan gaya
mereka. Entah zaman berubah atau memang orientasi sekolah ini memang
mengedepankan keakraban antara murid dan guru. Jika diingat lagi seribu tahun
sebelumnya ketika dimana saya berseragam seperti mereka, jangankan untuk
seperti bergaya bebas seperti mereka, berbicara dengan guru saja sudah membuat
badan gemetar. Yupp.. inilah perubahan zaman seperti yang dikatakan Lukmanul
Hakim didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.
Resiko karena jarak yang terlalu dekat biasanya membuat anak
yang kadangkala susah diatur, namun resiko itu tidak sebanding dengan apa yang
kita peroleh, dengan membuat suasana yang akrab membuat mereka percaya diri dan
senang dalam belajar bahkan sangking percaya dirinya lihatlah photonya, dan tak
jarang dari mereka datang ke mejaku untuk mengajak ngobrol atau becanda,
bayangkan mereka masih kelas tujuh loh… percaya diri bangetkan?... beginilah
seharusnya siswa di Indonesia guru dan belajar bukanlah sebuah momok yang harus
ditakutkan.
Sering mereka mengkrumuni meja saya, duduk rapat-rapat untuk
sekedar mengobrol. Terkadang lucu mendengar pertanyaan dari mereka.
“pak,
bapak hari ini kok gak ganteng, minggu lalu bapak ganteng?” (cobaklah apalah
yang dijawab kalau pertanyaanya kayak gini )
“loh?,
kok gitu pulak?”
“iya
mukak bapak banyak jerawatnya” (hadehhh… emang minggu lalu gak berjerawat)
Jawab dengan
senyum ajalah…
“pak bapak udah nikah pak?”, anak yang berkaca mata itu bertanya lagi
“menurutmu?”
“udah pak”
(music: sakitnya tuh disini)
“hahag
emang menurut kalian berapalah umur bapak”
“42 pak”
(ya ampun padahal aku masih 22 loh)
Ketawak aja
lah “emangnya ayahmu umurnya berapa?”
“42 pak”
(ya Allah tuanya lah mukak aku sampai disamakanya dengan ayahnya)
Bukan hanya mereka yang bilang begitu,
kemarin sedang jalan2 di sebuah mol (ciee,,, anak gaol nie, jalannya ke mol. Anak
gaol nulis mall harus kayak gini ). Bertanya dengan satpam “bang musolah dimana
bang?”, “oh lantai 4 om” , pak padahal aku udah manggil abang loh, kok malah
manggil aku om, bisa jadi waktu bapak tamat SD aku baru lahir.
Okelah udah banyak yang bilang badan aku
besar kayak uak-uak, (tapi tetap sexy) jadi kepikiran untuk berolah raga. Ditambah
lagi susahnya melewati musim paceklik ini (red: musim liburan tidak ada
pemasukan) otak suntuk badan pun lemas karena satu harian tidak bergerak. Pacaran
terus dengan laptop. Kalau pembaca bertanya kenapa gak kumpul dengan kawan,
hehehe inilah semester galau untuk mahasiswa, mata kuliah tinggal skripsi kawan
kuliah pada sibuk sendiri, kawan dirumah kebanyakan pada kerja, kisah anak
semester 9. (loh kok malah curhat)
![]() |
| Gedung stadion teladan |
![]() |
| Air mancur |
Sore ini aku pun pergi ke taman lapangan
teladan kota medan, sebuah taman yang juga ramai dikunjungi anak medan,
pasalnya disini juga dikelilingi banyak pedagang kaki lima yang menjual
berbagai macam barang dan makanan. Tempat yang sesuai untuk jogging atau
sekedar duduk bersama dengan keluarga.
![]() |
| Monumen Sisinga mangaraja |
Sebuah tempat yang unik, dan tempat yang
sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata kota medan. Taman ini tidak
jauh dari mesjid raya dan juga istana maimon yang menjadi ikon pariwisata kota
medan, ditambah lagi adanya sebuah monument Sisinga mangaraja (pahlawan
nasional dari provinsi Sumatera Utara) didepannya. Tidak ada yang mau
menjadikan monument ini sebagai saksi bisu yang menyatak bahwa iya telah datang
kemedan. Teringat dengan teman yang datang dari luar sumatera. Ketika mereka
datang ke Medan aku bingung untuk membawanya kemana, tidak hanya tempat wisata
begitu juga kuliner khas kota Medan. Al-hasil, saya hanya bisa bawa dia makan
mie aceh di titi bobrok (hellloooo.. dari namanya aja udah mie aceh bukan mie
medan). Miris melihat perkembangan pariwisata kota Medan. Medan hanya sebagai
tempat persinggahan untuk menuju tempat wisata di Sumatera Utara.
Beginilah
pemandangan yang terjadi di tempat yang berpotensi untuk menggaet turis lokal
maupun mancanegara. SAMPAH, bagaikan pramuniaga yang mengucapkan “selamat
datang, selamat belanja” terpampang nyata cetar membahana menyambut kedatangan
kita.
![]() |
| Sampah yang melimpah |
![]() |
| Gerbang masuk belakang |
Sampah yang gemah
ripa, tidak tertampung lagi didalam bak nya. Menjadi sebuah pemandang yang
begitu menakjubkan, kapan lagi kita bisa berkesempatan melihat ini di kota
Medan uwaw bangetkan?. Tidak hanya di bak ini saja, perhatikan saja dari photo-photo
yang aku tampilkan sampah berserak diman-mana. Satu sisi ini terjadi karena
kurangnya kesadaran dari anak medan sendiri, tapi kalau dilihat dari sisi lain,
hal ini wajar terjadi. Selama aku berkeliling tidak ada ku temui tempat sampah,
walaupun ada pamphlet himbuan untuk membuang sampah pada tempatnya. Mungkin setiap
orang mengklaim diman dia buang sampah disitulah tempatnya. Entahlah mungkin
sebenarnya ada namun aku yang kurang jeli melihatnya. tapi om, walaupun tong
sampahnya didepan mukaknya aja terkadang masih gak sadar, apa lagi harus
meningkatkan kejelian dulu baru bisa buang sampah pada tempatnya. Ai makk
tunggu kurikulum berapalah kita…
![]() |
| Parkir dan pedagang kaki lima yang mulai ke badan jalan |
Setelah sampai saya pun langsung berlari, berlari hingga
hilang pedih perih, kumau hidup seribu tahun lagi (loh kok malah chairil anwar
yang keluar), berlari mengelilingi taman sambil memandang yang seger-seger
(pohon maksudnya), tidak
hanya sampah yang menjadi PR anak medan ternyata tidak teraturnya pedagang kaki
lima juga mengganggu kenyamanan taman namun bukan berarti pedagang-pedagang ini
harus digusur, mereka hanya perlu dikordinir agar tidak menganggu kenyamanan
taman, karena mereka juga mengambil bagian untuk menggaet pengunjung. begitu
juga dengan lahan parkir yang tidak terkordinir, menutupi badan jalan sehingga sulit
untuk berjalan atau jogging. Selesai jogging saya
juga menyempatkan diri untuk mencoba alat-alat olah raga yang ada di tengah
taman… uwawww ternyata hanya sedikit yang bisa digunakan, hampir semua malah
bisa kita bilang rusak. Sudah sedikit harus berebut lagi sama anak-anak, “om
awaslah om, aku mau naek om”.
![]() |
| Becak untuk berkeliling |
Potensi pariwisata
taman ini juga dibawa oleh abang-abang yang menyewakan permainan becak-becakan
untuk pengunjung yang ingin berkeliling. Hanya dengan goceng sudah bisa bersantai
berkeliling seraya memandang bersama istri dan anaknya. Hal ini bisa dijadikan
ikon untuk menarik wisatawan, namun menurut saya yang harus diperbaiki adalah seharusnya
model becaknya lebih mengarah pada becak khas kota medan tempo dulu yang sangat
berbeda dengan kota lain, yaitu si tukang becak mengayuh dari arah samping. (gambar disamping anaknya abang yang ku bilang
tadi bukan abang becaknya)
Iri melihat
pergerakan kota bandung yang peduli akan taman sebagai tempat untuk berwisata
murah bersama teman atau keluarga. Sedangkan kota medan udahlah tamanya
sedikit, kayak gini pulak kondisinya. Hadehhh. Oleh karena itu kawan-kawan mari
sama-sama bahu-membahu untuk menjadikan kota Medan kota yang bersih, kota yang
layak untuk dikunjungi. Perubahan itu ada disini, di hati kita masing-masing.
photgrap by abdurrohman lubis















Komentar
Posting Komentar