Kehidupan
tidak luput dengan kontradiksi, seperti pembelajaran dalam matematika diskrit.
Terkadang dengan kontradiksi kita dapat mencari dan mengetahui suatu kebenaran.
Terkadang suatu hal yang benar juga belum tentu kebenaran, suatu hal yang baik
juga belum tentu kebaikan. Semuanya fiktif, fleksible, hanya orang yang mampu
menempatkan segalanya menjadi benar dan segalanya menjadi baik yang akan
mendapatkan kebahagiaan hakiki.
Tidak
hanya kontradiksi yang harus kita hadapi, relatif, juga sebuah makna yang
membuat dunia berwarna dan saling melengkapi. Tanpa adanya relatif takkan ada
warna hitam dan putih, takkan ada yang membuat hitam hanya karena semua orang
menganggap hitam itu adalah buruk. Semua akan putih dan akhirya matapun tak
mampu membedakan. Putih, hingga kau menganggap putih itu bukan lagi suci, namun
putih adalah membosankan.
Ketika
kau melihat orang yang berdasi adalah sebuah pencapaian, dan pencapaian yang
hakiki adalah sebuah kebahagian, maka kamu ingin menuju dan menirunya. Namun
siapa yang menyangka, orang yang berdasi itu bahagia, siapa yang membuat
patokan bahwa orang yang berduit itu adalah yang paling bahagia. Semua akan
kita ketahui jika kita lalui sendiri.
Ketika
kau melihat orang yang kumal adalah sebuah kegagalan, dan kegagalan adalah
makna sebuah kesedihan maka kamu akan menghindar, memandang rendah. Namun siapa
menyangka ternyata kebahagian yang datang itu bukan hanya dari uang. Banyak
sisi yang menarik canda tawa atau yang lebih penting syukur atas apa yang
diberikan. Syukur atas sebuah keluarga yang mampu duduk bersama memakan yang
sama walau tak mewah.
Terkadang
orang menganggap sukses itu adalah pencapaian atas profesi yang kita jalani. Ketika kau masuk ke
sebuah sekolah dasar, menyampaikan salam lalu bertanya buat apa kalian sekolah,
duduk diam dan belajar. Mereka menjawab untuk cita-cita. Ketika kau tanya
kembali satu demi satu apa cita-cita mereka, mereka akan memilih sebuah profesi
dan profesi dengan gaya dan gaji tertinggi yang akan banjir peminat, dan ketika
mereka tahu, mereka akan lebih memilih duduk diam belajar tanpa tujuan.
Walau
kau pikir dunia ini telah canggih, hingga mampu menggambar 2 dimensi dan 3
dimensi, ternyata itu adalah sebuah tiruan, tiruan dari sebuah alat yang mampu
dengan indah dan cepat dalam menggambarkan, mata. Sebuah alat yang dengan
sempurna di ciptakan untuk yang sempurna juga, manusia. Tuhan juga tahu, segala hal yang
diciptakannya tidak ada yang sia-sia, Ia maha tahu, Ia tidak hanya membuat mata
untuk sebuah penggambaran, juga membuat hati yang multi fungsi.
Untuk
melihat sebuah kebahagian 2 dimensi, 3 dimensi tidak cukup. Karena kebahagian
ntah dimensi keberapa dan perlu kita lalui untuk dimengerti. Manisnya hidup
didapat setelah berjuang. Kesan terindah dalam mencapai gunung terletak dalam
perjalanannya. Semua perjalanan mampu membentuk pertimbangan karena mata banyak
memandang. Manis akan diperoleh setelah pahit terlewati. Hidup adalah novelmu.
Hitam adalah sebuah warna. Maknai hidup ini.
Komentar
Posting Komentar