Langsung ke konten utama

Lalui semua jalan di hadapmu


Kehidupan tidak luput dengan kontradiksi, seperti pembelajaran dalam matematika diskrit. Terkadang dengan kontradiksi kita dapat mencari dan mengetahui suatu kebenaran. Terkadang suatu hal yang benar juga belum tentu kebenaran, suatu hal yang baik juga belum tentu kebaikan. Semuanya fiktif, fleksible, hanya orang yang mampu menempatkan segalanya menjadi benar dan segalanya menjadi baik yang akan mendapatkan kebahagiaan hakiki.
Tidak hanya kontradiksi yang harus kita hadapi, relatif, juga sebuah makna yang membuat dunia berwarna dan saling melengkapi. Tanpa adanya relatif takkan ada warna hitam dan putih, takkan ada yang membuat hitam hanya karena semua orang menganggap hitam itu adalah buruk. Semua akan putih dan akhirya matapun tak mampu membedakan. Putih, hingga kau menganggap putih itu bukan lagi suci, namun putih adalah membosankan.
Ketika kau melihat orang yang berdasi adalah sebuah pencapaian, dan pencapaian yang hakiki adalah sebuah kebahagian, maka kamu ingin menuju dan menirunya. Namun siapa yang menyangka, orang yang berdasi itu bahagia, siapa yang membuat patokan bahwa orang yang berduit itu adalah yang paling bahagia. Semua akan kita ketahui jika kita lalui sendiri.
Ketika kau melihat orang yang kumal adalah sebuah kegagalan, dan kegagalan adalah makna sebuah kesedihan maka kamu akan menghindar, memandang rendah. Namun siapa menyangka ternyata kebahagian yang datang itu bukan hanya dari uang. Banyak sisi yang menarik canda tawa atau yang lebih penting syukur atas apa yang diberikan. Syukur atas sebuah keluarga yang mampu duduk bersama memakan yang sama walau tak mewah.
Terkadang orang menganggap sukses itu adalah pencapaian atas  profesi yang kita jalani. Ketika kau masuk ke sebuah sekolah dasar, menyampaikan salam lalu bertanya buat apa kalian sekolah, duduk diam dan belajar. Mereka menjawab untuk cita-cita. Ketika kau tanya kembali satu demi satu apa cita-cita mereka, mereka akan memilih sebuah profesi dan profesi dengan gaya dan gaji tertinggi yang akan banjir peminat, dan ketika mereka tahu, mereka akan lebih memilih duduk diam belajar tanpa tujuan.
Walau kau pikir dunia ini telah canggih, hingga mampu menggambar 2 dimensi dan 3 dimensi, ternyata itu adalah sebuah tiruan, tiruan dari sebuah alat yang mampu dengan indah dan cepat dalam menggambarkan, mata. Sebuah alat yang dengan sempurna di ciptakan untuk yang sempurna juga,  manusia. Tuhan juga tahu, segala hal yang diciptakannya tidak ada yang sia-sia, Ia maha tahu, Ia tidak hanya membuat mata untuk sebuah penggambaran, juga membuat hati yang multi fungsi.
Untuk melihat sebuah kebahagian 2 dimensi, 3 dimensi tidak cukup. Karena kebahagian ntah dimensi keberapa dan perlu kita lalui untuk dimengerti. Manisnya hidup didapat setelah berjuang. Kesan terindah dalam mencapai gunung terletak dalam perjalanannya. Semua perjalanan mampu membentuk pertimbangan karena mata banyak memandang. Manis akan diperoleh setelah pahit terlewati. Hidup adalah novelmu. Hitam adalah sebuah warna. Maknai hidup ini.   

      

Komentar