Langsung ke konten utama

Antara belum rezeki atau belum berusaha


Atas perjuanganmu aku berani berjuang, sebuah kalimat yang melekat di dalam hati sebagai motivasi untuk terus bergerak maju. Perjuangan, suatu hal yang harus dilakukan untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Seperti halnya mendaki gunung, indahnya puncak hanya dinikmati selama 15 menit, namun perjalanan ke atas puncaklah yang menjadikan suatu cerita yang berkesan.
Allah pasti menghargai usaha kita sebuah pencerahan yang aku peroleh dari sebuah perjalanan, bukan, bukan traveling, namun hidup. Hidup seorang anak laki-laki yang berasal dari kedua orang tua perantauan dari negeri batak. Kedua orang tua yang walaupun keadaan keluarga kami tidak cukup baik menurut orang, namun sangat cukup baik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Akulah, seorang anak dari ibu yang hanya sampai kelas IV SD dan ayah yang tamat SMA. Banyak asam manis kehidupan yang dikecap oleh keluargaku, jika aku menceritakanya tidak cukup hanya dengan 700 kata.
Aku yang masih berumur 9 tahun sadar bahwa aku tidak boleh menuntut banyak seperti anak yang lain. Aku harus sadar bahwa ayah adalah seorang tukang becak dan ibu hanyalah pedagang kaki lima. Namun sadar yang aku maksud bukanlah sadar untuk tidak bermimpi. Sejak duduk di sekolah dasar, aku telah bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Cita-cita itu terus melekat, melakat jauh kedalam sanubari.
Setelah 2 tahun ayah merasakan sakit akhirnya penyakitnya hampir dikatakan sembuh. Namun sebelum kesembuhan totalnya datang. Allah berkata lain, ayah meninggal diusiaku yang masih 11 tahun. Aku masih belajar di kelas VII MTs Sawasta. Sebuah sekolah yang sebenarnya bukan pilihanku. Namun karena banyaknya biaya untuk masuk ke sekolah negeri. Sekolah dari yayasan amal inipun menjadi warna dalan hidupku.
Setelah kepergian ayah, perekonomian keluargapun semakin ambruk. Kakakku yang sudah menjadi suami orang pun harus ikut dalam menanggulanginya. Tidak hanya kakakku, keponakannya tetanggaku pun ikut mmbantu. Bang obon namanya, seorang pegawai pajak. Karena melihatku yang yatim dan berprestasi di sekolah iapun menanggung uang sekolahku hingga aku SMA. Ia jugalah yang memotivasi aku untuk tidak takut bermimpi.
Aku tahu, dia juga punya anak, aku tidak mungkin terus bergantung padanya, kepada orang yang sama sekali tidak ada ikatan darah kepadaku. Aku juga sadar, terlalu egois jika mengharapkan orang tuaku untuk menyekolahkan ku hingga perguruan tinggi, walaupun aku anak ke 5 dari 5 bersaudara. Lima bersaudara yang belum pernah mengecap ilmu dari pendidikan tinggi. Akhirnya aku berusaha untuk masuk ke STAN karena gratis. Walaupun sudah berusaha, keunggulanku di matematika tidak sanggup menutupi kelemahanku di bahasa inggris, akhirnya akupun tidak lulus.  
Teringat kembali ketika teman-teman sekelas mulai mendaftar di perguruan tinggi. Aku bertekad, tidak akan menyerah. Tidak untuk tahun ini siapa tahu tahun depan. Biarlah simulasi atau try out ini membahagiakanku seketika. Walaupun aku bukanlah anak yang pintar namun Allah pasti menghargai usaha kita. PTN akan ku raih.
Setelah tamat dari SMA aku bekerja di indomaret, sebagai helper elpiji. Sebagai pekerja yang mengantarkan gas ke toko. Disela-sela perjalanan antar toko disitulah aku belajar untuk mempersiapkan SNMPTN, keringat yang bercucur bukanlah sebuah hambatan. Bertemankan buku kumpulan soal, aku terus berusaha. Pasalnya aku bukan harus berjuang mengenai pembiayaan saja aku juga harus berjuang agar bisa melewati seleksi ujian masuknya. Gimana tidak, juara kelas saja tidak lulus dalam penerimaan tersebut. Apalah aku yang hanya peringkat 20.
Allah pasti menghargai usaha kita, inilah sebuah hikmah yang aku pelajari. Yakinlah kepada Allah atas mimpimu, jika kau tak yakin atas mimpimu maka kau tak yakin atas kuasaNya.
Tak bisa aku bendung air mataku, tak bisa aku menahan badanku yang bergetar. Alhamdulillah aku diterima di Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan. Terngiang sebuah percakapan “udahlah gak usah kau kuliah, nanti putus ditengah jalan semakin sakit kau rasa”, “gak papalah mak, walaupun hanya satu semester, aku puas mak”.
Inilah sebuah sukses terbesar dalam hidupku. Sukses terbesar bagiku bukanlah hasil yang besar yang harus diperoleh. Menjadi mahasiswa sudah suatu keberhasilan yang tak terlupakan bagiku. Tidak hanya sekedar menjadi mahasiswa. Alhamdulillah atas kehendakNya aku juga bisa mengecap mimpiku untuk menginjakkan kaki di pulau jawa. Bahkan sebuah rezki yang tak disangka-sangka, aku bisa menginjakkan kaki di pulau Sulawesi juga. Seorang anak yang hanya melambaikan tangan kegirangan ketika pesawat terbang di atasnya.
Sekarang aku disini berusaha untuk lebih baik lagi. Berusaha untuk mengejar mimpi. Aku sudah mengalami sendiri. Berprasangka baiklah kepada Allah. Allah pasti menghargai usaha kita. Antara belum rezki atau belum berusaha.

Komentar