Langsung ke konten utama

Banyak Melihat Banyak Belajar (Palembang 2)

Banyak Melihat Banyak Belajar (Palembang 2)

“hati-hati ya nak ya”, mamakku sambil mencium pipiku diatas bis. Bis yang untuk pertama kalinya membuat aku berpikir kalau ada bis yang sebagus ini. Bis yang tidak akan membuatmu merasa jijik kalau harus duduk selunjur atau bahkan berbaring di bawah bangku. Ace yang dingin bangku yang empuk semakin membuai ku untuk terus mengucapkan rasa syukur atas diberikan petunjuk. Tiga ratus empat puluh lima ribu adalah ongkos bis termurah sejagad raya, karena itu bukanlah harga untuk satu bangku, namun bisa dibilang harga sewa setengah bis. Pasalnya hanya ada dua orang penumpang saja didalam sini. Aku duduk di seat yang pertama. Menikmati pemandangan sumatera utara, sekian lama duduk dengan berbagai gaya sampai juga ke tempat yang sejak kecil aku tidak pernah bosan untuk menempelkan wajah di kaca bis untuk melihat keluar, kearah kumpulan air yang berwarna biru dan bersinar bagaikan ditabur beribu mutiara yang memantulkan sinar matahari. Air bak laut itu dikepung oleh hijaunya pegunungan yang diatasnya berdiri kokoh hotel-hotel yang beratapkan khas batak, dihiasi keramba-keramba rakitan manusia, terlihat indah dari atas badan jalan, monyet-monyet liar juga melengkapi keindahan danau toba ini dengan saling bercanda antar mereka seraya menunggu jikalau ada pengguna jalan yang melemparkan makanan kepadanya.
Ternyata kita sudah memasuki kawasan prapat kawasan yang hampir seluruh masyarakatnya etnis batak. Setelah melewati prapat, mataku tidak sudi kiranya untuk mengantuk disaat yang seperti ini, hamparan sawah-sawah yang hijau membentang luas dipinggir jalan, burug-burung berwrna putih terbang diatasnya terlihat beberapa nande-nande dengan penutup kepala yang khas sedang menggerakkan cangkulnya. Rumah-rumah yang jarang dibatasi oleh lebatnya hutan, terlihat dua anak-anak yang sedang berjalan dipinggir jalan tidak tahu hendak kemana ia akan pergi.
Melewati perapat sampai juga di tarutung, asal temanku yang merantau ke medan untuk belajar di Unimed, dari arah penunjuk jalan aku membaca Mandi Soda “oh disini rupanya mandi soda yang terkenal itu”, setelah melewati ini aku pun berpikir untuk tidur, karena aku tidak mau ketinggalan untuk melihat daerah-daerah setelah penyabungan, karena untuk jalan menuju penyabungan aku sudah sering melihatnya kalau pulang kampong ketika kecil dulu. Pertengahan tidur aku terbangun karena guncangan yang terjadi, ternyata kami sedang melewati jalan aek latong jalan yang terkenal keburukannya, jalan yang pernah membuat heboh mamak aku ketika pulang kampong dulu, gimana tidak bis yang kami naiki hampir saja terjungkal karenanya, bahkan ingat tidak kawan-kawan media pernah datang kemari untuk merekam kejadian bis yang terjungkal masuk kedanau. Aku pikir ini memang tidak cocok menjadi jalan lintas sumatera jalan ini lebih seperti tanah yang ditinggal penambangan.
Setelah itu aku tertidur lagi lalu terbangun ketika bis sudah berada di sidimpuan, kawasan yang kita lalui ini sudah memasuki kawasan batak mandailing, aku terbangun dan langsung menyegarkan mata karena sekitar satu jam lagi pasti akan melewati penyabungan dan untuk kali pertama aku akan melewati daerah tersebut, aku tidak mau tidur lagi walaupun waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, alunan music india mendukung pergadanganku, aku menari-nari mengikuti irama music sambil mengunyah keripik yang aku beli di siantar (hanya sambil duduk, jangan berpikir aku menari seperti gadis india di bis ya).
Setelah berhenti dipenyabungan kami pun mulai bergerak, aku sudah mulai tidak sabar melihat bagaimana penataan oleh arsitek terhebat Allah SWT. Lagi asik memperhatikan jalan yang membawa bis meliuk-liuk terlihat banyak rumah panggung yang berbentuk kotak, yang menurutku itu terlalu besar dan indah untuk kandang namun terlalu kecil untuk dijadikan rumah, di tambah lagi jumlahnya yang banyak bersusun rapi bagaikan perkampungan. Setelah terlihat beberapa anak tanggung yang menggunakan kopiah dan menyelimutkan sarung ke badanya baru aku sadar inilah tempat yang sering aku dengar ketika kecil dulu, tempat sebagai cita-cita mamak ku untuk menyekolahkanku disana, tempat yang membentuk pemimpin luar biasa, Ayahku, Pesantren Mustafawiyah Purba.
Bis pun berhenti, berhenti ditempat yang aku yakini sudah mendekati sumatera barat karena nama desanya yang akhir katanya terdengar cirri khas sumatera barat. Sejauh perjalanan anatara sumatera utara dan sumatera selatan, sumatera barat inilah tempat yang menurutku paling indah dari semuanya. Jalan beraspal yang sedikit pun tidak terlihat lubang, tidak ada sama sekali sampah yang terlihat, bersinambung dipinggiran sawah dan peguungan yang tertutup kabut pagi, udara yang sejuk, ditambah lagi bangunan yang beratapkan seperti tanduk kerbau itu menghiasi perjalananku, hingga akhirnya puncak dari pemandangan sumatera barat yang aku lewati yaitu danau singkarak. “Wah perjalanan yang menakjubkan” pikirku, sekarang dengan mata kepala ku sendiri aku melihat danau yang sering disebut-sebut orang. melihat dari jalan yang seolah-olah sengaja dibuat untuk mengelilingi danau tersebut. “Subhanaallah”.
Setelah memasuki sumatera barat aku tidak lagi duduk sendiri, biasanya aku mengisi tas atau ntah apalah jikalau orang naik ke bis sehingga dia duduk dibelakang, namun kali ini hatiku ragu karena penumpang yang naik kakek-kakek yang sudah tua. Akhirnya diapun duduk disampingku. Awalnya kami hanya diam-diaman, aku memang tipe orang yang payah beradaptasi jadi aku hanya melihat keluar jendela. Namun lambat laun kami semakin akrab bahkan aku sampai lelah mendengarkan pembicaraan kakek yang banyak pengalaman ini. Ia berbicara tentang perjuangannya melawan belanda untuk kemerdekaan, perjalanannya yang kalau dia ditanya asli mana ia akan bingung menjawabnya. Banyak kota di Indonesia telah ia jalani. Awalnya aku sangat tertarik mendengar pembicaraan kakek-kakek yang masih kuat berjalan jauh walaupun umurnya sudah 95 tahun dan tidak keriput ini. Namun semakin jauh berjalan semakin kakek ini tidak berhenti becakap, sekarang topiknya mulai ke mistis yang tidak masuk akal ku. Sudah ku coba berbagai cara dengan menjawab seperlunya seperti “iya”, “hehe”, “oh” belum juga diam, hingga aku pura-pura tidur (pura-pura tidur karena aku masih ingin melihat keindahan jambi) tidak mempan juga, akhirnya aku menikmati pemandangan jambi yang memiliki banyak hutan dan sungai itu seraya mendengar ocehan kakek itu.

Walaupun setelah jambi adalah sumsel namun butuh satu harian juga untuk menelusuri jambi, menelusuri banyaknya hutan mencari-cari dimana kira-kira temanku aidil tinggal ketika kecil dulu karena aku melihat jarang sekali rumah, hanya sedikit perkotaan yang aku lihat. Aku tidak melihat keindahan sumsel karena aku sudah mulai lelah, lelah karena lamanya perjalanan, lelah karena tidak bisa merenggangkan kaki seperti duduk tanpa adanya kakekini disampingku. Akupun tertidur melewati pemandangan sumsel, hingga pagi menjelang ternyata aku telah sampai ke Palembang. Mungkin bis ini sudah menghipnotisku sehingga aku malas untuk turun, berdo’a bisnya jangan berhenti. Perjalanan ini semakin memperkuat kata-kataku untuk mengalahkan abang-abang yang mengajak aku untuk ikut masuk ke MLM. “banyak jalan menuju Jakarta namun sebagian orang memilih naik kereta api, lalu naik bis, lalu naik pesawat, karena semakin banyak dilihat, semakin banyak pengalaman, semakin banyak ilmu yang dipelajari” begitulah kehidupan peroses menuju sukses lebih indah dari suksesnya.

Komentar