Langsung ke konten utama

Mak aku di terima Part 2

Mak aku di terima  

Aku cari tempat dudukku sesuai tiket yang ku miliki. Kuletakkan tas di rak yang berada diatas tempat duduk. Aku duduk diam tanpa berbicara dengan siapa pun. Ada suatu kejadian ketika di bis ini namun nanti aku ceritakan kalau sudah datang waktunya. “man kalau dah sampai di terminal marindal bilang ma abang, biar di jeput kau”, terlihat dilayar hand phoneku sms dari kakakku.  Karena ada suatu hal yang belum kuceritakan tadi aku tidak turun di marindal aku turun di terminal Bandar selamat. Terminal yang lebih jauh dari rumah ku. Aku stop mobil angkot yang biasa kunaiki ketika sma menuju rumahku di titi kuning. Akhirnya aku sampai di rumah, rasa bahagia karena aku sampai dirumahku bercampur dengan sedih karena ternyata aku sendiri.
Malamnya tiba, kakakku dan keponakanku yang dititipkan ke neneknya dari ayah datang. Aku bangkit dengan semangat untuk memperlihatkan wajahku ke keponakanku dengan dalih mereka merasa terhibur karena aku pulang. Ternyata aku salah, keponakanku yang paling kecil, riska yang berumur 2 tahun,  terus-terusan menangis, abangnya yang sekitar empat tahun ikut merengek, madan keponakanku yang paling besar diam tanpa keceriaan terlihat di wajahnya. Hal ini terjadi karena belum terbiasanya mereka dengan dijaga oleh keluarga pihak ayahnya (biasanya ibuku yang jaga).
Ketika itu aku bingung harus melakukan apa, ku bantu kakakku untuk menenangkan keponakanku namun malah betambah rengekannya. Kakakku pun marah-marah gak jelas setiap ia pulang dari kerjanya, salah satunya dikarenakan anaknya yang merengek terus. Sungguh masa yang menyedihkan bagiku kala itu. setiap maghrib tiba dimana kakakku pulang aku tidak keluar dari kamar, karena aku tau pasti ricuh terjadi. Sering aku menangis karena rindu masa-masa tanpa adanya masalah ini.
Beberapa hari pun berlalu, tidak banyak yang kulakukan dalam aktivitasku. Bangun pagi aku sendiri (kakak dan abang ku kerja, keponakan aku ke neneknya), sarapan, nonton sampai siang, makan siang, tidur siang, bangun, mandi, golek dikamar karena kakak ku mau pulang, belajar, sesekali keluar melihat mereka, masuk kamar lagi, tidur malam. Hanya itu yang ku lakukan untuk mengisi hari-hariku bahkan untuk membuka pintu rumah saja aku enggan. 
Kadang aku menghilangkan penat diri dengan main facebookan di warnet. “man ada lowongan kerja di indomaret, gak mau kau?”, muncul dari inbox yang dituliskan atha (teman sma) kepada ku, “kek mana tha”, “tanyak aja ama si bagay (panggilan untuk teman sma ku) dia udah kerja disana”. Aku menghubungi hendra (si bagay) setelah memperoleh nomornya dari atha.
Dia mendatangiku kerumah dan menjelaskan persyaratan yang harus aku penuhi. “abis tu ko hubungi aku ya, biar aku aja yang ngantar”,  “oh oke” jawab ku. Setelah semua prsyaratan selesai aku pun memberikanya ke si bagay untuk ditindak lanjuti. “ko tunggu aja panggilanya kemarin aku udah tiga minggu baru di panggil”.
Lebih satu bulan sudah kepergian orang tua ku. Abang ku menelpon “kak kirimin lah kami duit untuk ongkos, kami da mau pulang ini”. Perjanjian untuk dimodalkan ternyata berubah, paman ku yang sombong itu menyuruh kepada kedua abangku untuk bekerja dahulu menjadi kuli angkut di tokonya selama 2 tahun yang mana gaji menjadi kuli angkut di tokonya ini cukup besar, dua juta lima ratus ribu rupiah, besarkan? Tapi ini untuk satu tahun, ironis bukan?, inilah yang terjadi, aku tak tahu apa yang dipikirkanya, namun tawaranya ini hanya berlaku untuk anak-anak kampong yang tak lagi melanjutkan sekolahnya, bukan abangku. Abangku yang kedua emosi “udah mak, aku ke Jakarta aja kerja aku disana”, “mau kerja apa kau disana,? Keahlian kau tak ada, ijazah kau tak ko bawak” jawab abang tertua ku. Akhirnya mereka pulang dan mendengar kegagalan mereka itu aku malah senang karena ibuku akan pulang.
Masih di rumahku tercinta hasil karya tangan ayahku, kami kumpul dua keluarga, keluarga ku dan keluarga kakakku pasalnya rumah kakakku sudah disewakan ke orang karena pengaduan nasib yang gagal itu. aku menunggu panggilan dari perusahaan yang kujatuhkan lamaran itu. tiga minggu berlalu tidak kunjung datang.
Akhirnya memberanikan diri untuk menuliskan lamarannya kembali. Setelah selesai berkas tersebut aku langsung menghantarkannya ke alamat yang dituju. “Jl. Industri II tanjung morawa” dimana ini aku tidak tahu, aku hanya beranikan diri megikuti arahan dari si bagay  “nantik dari simpang sejati naik angkot A 97  turun di depan kantor polisi sinalko jalan aja kedalam”. Aku salam tangan ibuku aku pun pergi, sesampai di simpang sejati angkot A 97 tidak kunjung datang. “p 26 tanjung morawa” tertulis dibawah kaca depan mobil angkot yang berwarna kuning ini, aku stop dan langsung naik, aku pikir ini akan membawaku ketempat tujuanku karena sama-sama jurusan tanjung morawa. “bang jalan Industri ya bang”, arahan ku ke supir angkot, “dimana itu bang”, “mampus aku abang ni tak tahu, cemana ni, ini he anu bang, indomaret bang”, “oh gak lewat situ kita bang, abang turun disimpang kayu besar ja nantik bang, baru naek becak”, “oh oke bang”.
Aku turun sesuai dengan skenario yang dibuat supir angkot tadi. “trus kemana aku ni” pikirku, kulihat ada seorang mahasiswi (karena ia memakai almamater). “kak Jl. Industru dimana kak?”, “gak tau bang, tanyak ma tukang becak ini aja” dia menjawab dengan tergesa, dan aku tak tahu sejak kapan tukang becak ini berada dibelakangku. “bang Jl. Industri dimana bang?”, ”oh itu dibla, bla, bla”, aku tidak tahu apa yang dibilangya, “berapa bang?” aku tanyak ke abang tukang becak itu, “maaf bang saya duluan bang” keluar kata-kata dari mahasiswi tadi”, “oh ya ampun, kakak ini rupanya yang manggil becak ini tadi” pikir ku, “oh ya kak” aku jawab, “udah naik aja ke belakang, satu arah dengan kakak ini” ujar bapak tukang becak itu atas persetujuan kakak itu aku pun naik . 
Akhirnya aku sampai juga didepan gedung perusahaan yang besar itu, “berapa bang?”, “tujuh ribu bang”, “ah mahal kali”, “udah gak mahal itu bang seharusnya lima belas ribu karena abang sama kak tadinya makanya segitu”  jawab tukang becak itu, “ya udahlah bang”. Aku masuk melewati pagar bangunan itu “bang mau ngelamar kerja kemana bang” Tanyaku ke satpam, “oh letak sini aja dek”, (menunjukkan tumpukan berkas lainya).  
Selesai itu aku pun berniat pulang, aku tak tahu bagaimana caranya pulang, tak mungkin aku  pulang dengan becak lagi ongkosnya pasti mahal, akhirnya aku jalan dengan mengikuti kata hatiku dengan harapan menembus ke jalan raya yang ada angkotnya. Aku terus berjalan dibawah teriknya matahari, memang pada saat itu bertepatan pada pukul 14.00. sampai aku di persimpangan jalan, “kemana aku harus pergi, kanan, kiri atau terus ya”. pikirku, sempat aku tediam dan berhenti, hendak mau bertanya, tidak ada siapa-siapa disana maklumlah kawasan pabrik.  Tidak beberapa lama datang becak dan pergi kearah kiri. “haaa,, pasti bapak itu ke jalan raya ni..” pikirku, akupun berjalan kearah becak itu pergi, Alhamdulillah aku sampai ke jalan raya. Terlihat pos polisi di samping kanan gang, “oh ini rupanya pos polisi sinalko”.
Masih menunggu, namun aku menunggu dengan sedikit berbangga karena aku diminta mengajar les privat anak kelas 2 SMA dan adiknya kelas 2 SMP, kalau dipikir lagi aku gak tahu kenapa bisa seberani itu menerimanya padahal aku baru tamat sma. Tersenyum bangga terlihat di keluarga ku, “cieh da jadi pak guru kau ya” gurau mereka.
Ajakan untuk test tertulis diperusahaan tersebut telah datang melalui sms. Dengan senang hati aku menerimanya dengan pakaian seragam putih hitam aku diantarkan abangku dengan kereta abang iparku dari kakakku yang kedua. Aku ikut bergabung dengan anak-anak yang memakai baju putih hitam sama seperti aku didepan kantor personali pusahaan. Ada satu anak yang duduk disampingku menjulurkan tanganya ke aku, “(gak ingat siapa namanya)”, “abdurrohman” jawab ku. Pertanyaan yang paling aneh ku dengar ketika berkenalan dengan orang yang pertama kali kita jumpai, “udah tunangan?”, “apa nya anak ini”pikir ku, aku senyam dan menjawab “belum”, dan dia menceritakan pasangan tunangannya dari mana asalnya dan tidak ingat aku apa yang dikatakannya lagi.
Test tertulis dimulai, dibagikan soal kepada kami, ku buka soal tersebut “ah gampang kali” pikir ku, pasalnya ini adalah soal TPA dan jauh dibawah soal STAN tingkat ksulitanya. Sebelum pengawasnya duduk aku telah selesai mengerjakanya. Akhirnya aku hanya diam dan memperhatikan mereka yang kesulitan menjawab soal tersebut, bahkan temanku yang bertunangan tadi minta jawaban ke aku, “bagai mana caranya kami dua duduk paling depan” pikirku.
Aku lulus test tertulis dan harus melewati test wawancara lagi dikeesokan harinya. Kami yang lulus duduk dilantai dua dengan hati deg-degan, aku orang yang kedua di panggil untuk wawancara.
seperti arahan si bagay kalu wawancara tagak dan jangan taku melihat matanya. “namanya abdurrohman lubis,, kenapa abdurrohman, biasanya Abdurrahman?”, “iya, orang tua saya buatnya ingin sesuai dengan yang di Al-qur’an”, “oohh,, rohman pernah merokok?”, “pernah” jawabku singkat, dia melihat ku “berapa batang sehari?”, “waktu kecil pas masih SD kadang mengambil dari yang dibuang orang”, “oohh waktu kecil ya”, “ada rencana mau menikah?”, “ada”, “kapan”, “sepuluh tahun lagi”, “oh iya setiap orang punya rencana hidup ya, banyak lagi yang kami perbincangkan, “saudara Abdurrahman tunggu aja disana nanti di panggil lagi ya”. Diluar aku ditanya oleh teman ku kenapa lama sekali dan aku bingung menjawab apa karena aku merasa nyaman aja didalam jadi gak merasa lama.
Wawancara untuk menentukan bagian pun di mulai. Ada empat orang dari awalnya sekitar 20 orang yang ikut test lulus di wawancara pertama. Mulailah giliran aku, “abdurrohman nilai matematikanya bagus”, “he’ iya buk, soalnya saya sering bahas soal STAN”, “hemm,, abdurrohman cocoknya dimana ya.. kamu bisa computer”, “bisa bu”, “bisanya bagai mana? Exel bisa? Acces bisa?”, aku menjawab “ya bisanya kayak gitulah bu, bisa-bisa sikit”, “hem Abdurrahman kamu cocoknya dimana ya administrasi kamu gak bisa computer, pramuniaga kamu susah senyum, jadi helper di gudang aja ya, mau?” aku jawab saja iya. “tapi kamu wawancara lagidengan manegernya ya, tergantung manegernya kalau senang dia dengan mu diterimanya”.
“uiiih wawancara dengan maneger” DEG, DEG, bunyi suara jantung ku ketika menunggu panggilan, tinggal aku sendiri yang tersisa dari empat orang tersebut tidak tahu aku apa yang terjadi pada mereka. “saudara abdurrohman” ada suara yang memanggil ku, “ayok ikut saya, aku ikut dengannya turun ke lantai satu masuk ke ruangan yang berpintu kaca. “wussshhh hembusan ace yang dingin menusuk badanku menambah rasa deg-degan ku ketika ku buka pintu kaca tersebut. “silahkan duduk”, aku dipersilahkan oleh maneger yang orangnya tampan, putih matanya sipit, pasti kawan-kawan sudah menebak ras dari bapak ini, ya dia orang cina kalau melihat dia aku langsung terbayang wa cele di meteor garden. “nilai matematikanya bagus, sebelum melamar kerja kemari kerja dimana?”, “belum ada pak, saya hanya kerja mengajar les privat pak”, “oohh pintar dong tamat sma bisa langsung mengajar” aku hanya tersenyum membalasnya, “ngajar matapelajaran apa?”, “matematika, kimia untuk SMA kelas 2 pak dan metematika, fisika untuk kelas 2 SMP”, “oh bagus tu, boleh di test”, “boleh pak”, akhirnya wawancaranya seperti test lisan untuk anak SD “sekian kali sekian berapa?, sekian bagi sekian berapa terus sisa berapa” seperti inilah wawancara selanjutnya. Dan aku pun lulus dengan luar biasa (nanti aku certain apa yang dimaksud luar biasa). Sesampai dirumah dengan bangga ku sampaikan “mak aku diterima..”.

Komentar