Mak aku di terima
Ujian Nasional
telah berakhir, namun kami anggota black n white community masih tetap terus
datang ke sekolah kami tercinta MAN 2 Model Medan. Terlihat didepan kelas sekelompok
anak-anak membungkukan diri dengan menggerakkan sebuah pinsil membentuk
bulatan-bulatan kecil di atas kertas khusus yaitu formulir pendaftaran sleksi
masuk perguruan tinggi. Memang sudah sepantasnya kami memikirkan masa depan dengan
melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi atau apalah solusi dari pemikiran
masing-masing. Aku termasuk salah satu anggota kelompok dari sekelompok
anak-anak tadi namun aku tidak mengerjakan kewajibanku sebagai anggota kelompok
untuk melaksanakan tugas-tugas pembulatan dengan pinsil karena memang aku tidak
ikut mendaftar ke perguruan tinggi, dengan mengikuti simulasi di salah satu
bimbingan belajar sudah memiliki kepuasan tersendiri bagiku.
Harapan untuk
melanjutkan ke jenjang lebih tinggi ku urungkan niatku, dengan melihat segala
aspek yang ada pada diriku termasuk aspek ekonomi keluarga. Untuk sekolah saja
aku diberikan Allah rizki dari orang lain sehingga aku bisa terus bersekolah.
Orang lain itu adalah abangda Herry ramadhan seorang pegawai perpajakan di
Dept. keuangan, ialah seorang
motivatorku yang terus mengajak aku untuk malanjutkan ke STAN. STAN lah
harapanku dengan melanjutkan kesana aku bisa terus melaksanakan proses
pendidikan formal dikarenakan tidak dipungutnya biaya untuk menuntut ilmu
disana. STAN, STAN, STAN hanya itu yang dipikiranku, sekarang pasalnya ada salah
satu alasan lagi pemicu aku untuk terus kesana yang akan ku ceritakan di
paragraph selanjutnya.
Masa-masa ini
adalah masa yang tersulit bagi keluarga kami. Pasalnya keluarga kami yang
memiliki single parent ini otomatis
menyandangkan gelar tulang punggung ke abang tertuaku. Namun pada masa inilah
ia putus dari pekerjaanya dan merubah gelar menjadi pengangguran. Abangku yang
kedua entah apa yang ada didalam pikirannya hinga dua tahun sudah (dihitung
setelah tamat SMK) ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Dan aku yang baru tamat
sekolah akhirnya terseret juga dalam masalah di Negeri kita ini yaitu
pengangguran, jadilah satu rumah itu pengangguran. Kami hanya bertahan hidup
dari bantuan kakak tertua ku.
Tidak tahan dengan
situasi seperti ini abang tertuaku beranikan diri untuk mengadu nasib ke kota
lain. Oleh karenanya dengan mendengarkan beberapa usulan dari keluarga kami,
dia berniat untuk membuka usaha dagang yang akan dimodalkan pamanku di Kota
Bogor dan hasilnya dibagi sesuai dengan perjanjian. Akhirnya dia menjual
keretanya sebagai modal untuk kesana. Abangku tidak sendiri ia pergi dengan
ibuku sebagai juru bicara ke pamanku dan
abang kedua yang tidak tahu aku apa pemikiranya ikut-ikutan nebeng kesana dengan alasan mencari
pekerjaan disana.
Aku disini hanya
terus berusaha agar lulus ke STAN dan inilah pemacu kedua ku, dengan lulusnya
aku di Sekolah Tinggi tersebut aku akan masih bisa berjumpa dengan orang tua ku karena dalam pikiranku
tanggerang bogor jaraknya tidak terlalu jauh.
Membahas soal, itulah
yang selalu ku kerjakan setelah tidak ada lagi beban dari sekolah. “gak usah
kau belajar terus, nantik gilak kau”, inilah kata-kata yang pernah terucap
orang tuaku karena aku terus membawa buku kumpulan soal dan terus membahasnya
walaupun sedang di depan TV. Aku sendiri tidak tahu mengapa bahasa inggris yang
menjadi pelajaran terfavorit kedua setelah matematika (ketika aku masih SMP ) sungguh
tidak ada daya tarik lagi untuk dibahas.
Hari ini adalah
hari dimana ujian saringan masuk dilakukan serentak di Indonesia. Dan aku
mendapatkan tempat ujian di Unika ST. Thomas. Setelah satu hari sebelumnya kami
(aku & taufik teman satu sma) meninjau tempat. Aku berangkat dengan abangku
pagi-pagi betul agar aku bisa mempersiapkan mental dan tidak terlambat jika
dengan angkutan umum. “anak STAN semangat ya.. aku yakin kau pasti bisa”,
tulisan ini muncul sebagai pesan masuk di hand
phoneku dengan senyum haru aku membalasnya “makasih ya kawa-kawan” . Ujian
dimulai, aku mendapatkan tempat duduk yang tidak bermeja, berjam-jam tengkuk ku
menunduk karena menjawab soalnya. “Wuih ngeri kali ah soal nya” pikir ku, dengan semangat aku mengerjakan soal
TPA hingga lupa atau dilupakan, waktu untuk bahasa inggris sedikit tersisa.
Rasa mual, kepala
pening aku rasakan setelah selesai ujian, turun dari angkot badan ku sudah
tidak stabil untuk berjalan. Sampai dirumah aku pun langsung tertidur dan
terdengar lebay tapi inilah kenyataan, aku pun demam beberapa hari.
Menunggu
kelulusan dengan harapan lulus itulah yang aku kerjakan mengisi masa
pengangguranku, ketepatan masa menunggu itu adalah bulan ramadhan sehingga aku
pun disibukkan dengan berbagai kegiatan dimesjid. Waktu untuk pengumuman adalah
beberapa minggu sebelum lebaran yang mana setelah lebaran aku akan berpisah
dengan orang tuaku baik itu aku lulus maupun tidak.
Kala itu
pengumuman untuk bea cukai diumumkan terlebih dahulu, dengan seksama aku gerakkan
kursor ke nama yang tertera dilayar computer tersebut. Deg deg, serrrrr namaku
tidak ada, aku tidak lulus bea cukai, “ya Allah semoga aku lulus di akuntansi
Negara”. Beberapa hari kemudian
datanglah sms dari sukma (teman dekat ku di sma) “man si amri lulus, kau
juga?”, DEGG,, bunyi jantungku ketika aku melihat kalau aku lulus, aku bergegas
ke warnet ternyata tidak ada nama ku begitu juga amri, ku baca lagi smsnya
ternyata ada tanda tanya untukku. Kulihat dengan seksama satu persatu hingga
kejurusan lain pun aku lihat ternyata tidak ada yang mau menuliskan namaku disitu
padahal tidak ada susahnya menuliskan Abdurrohman lubis disitu.
Ada kejadian lucu, semua anggota kelas kami
heboh sampai ke orang tua nya, dikarenakan sms si amri ke latifah “ horeeee aku
lulus di kebendarahan Negara” dan
langsung disebarluaskan ke seluruh anggota BWC, tidak masalah untuk tersebar
pada anggota BWC namun di karenakan ada orang tua temanku di BWC yang menjadi
guru di MTs-nya tersebarlah bahwa si Amri lulus STAN disana, sehingga si amri
pun dengan malu harus datang dan menegaskan apa yang terjadi.
Hari metamorphosis
datang, keluarga kami yang mengadukan nasibnya ke kota orang ini mulai
menggerakkan niatnya. Ibu dan kedua abangku pergi ke bogor untuk berdagang
setelah selesai lebaran. Sehingga kami berinisiatif pergi berlebaran kekampung
dahulu satu keluarga lalu berpisah disana. Pergilah kami dengan memesan tiket
bis ALS. Semua keponakan ku turut gembira kerena inilah kali pertama mereka
pulang kampung.
Berjam-jam kami
menunggu bis nya datang, kami pun sudah mulai capek dan bosan. Terlihat dari
kejauhan bis yang kami tunggu datang. bis yang datang itu ternyata berbeda
sekali dengan apa yang kami harapkan bis ALS diganti mereka dengan bis
mahasiswa dari universitas swasta mana (saya lupa) yang pengap dan sempit.
Satu
syawal adalah hari yang paling tepat untuk bermaaf-maafan, namun hal ini
berbeda apa yang terjadi dengan kami. Selesai shalat idul fitri kakak tertua ku
duduk melihat kami bersalam-salaman dan tak lama kemudian dia pun
meraung-raung, aku tidak tahu apa yang terjadi kami semua pun bingung. “kenapa
kau nak e..?” kata ibu ku, “ mamak gak pernah sayang ama ku” dia nangis
meraung-raung, “ kok gitu pulak pikiran mu”, ternyata kakak tertua ku cemburu
melihat perhatian lebih yang diberikan ibu ku ke kakak kedua ku yang sedang
hamil.
“aku
merasa gak pernah disayang sama kelen, cobak kak deli heboh kali mamak, di bis
ketawak-ketawak klen, aku kesusahan mangku anak-anakku, tak ada len yang mau
bantu, aku dulu hamil gak pernah diperhatikan mamak, gak pernah ditanyak mamak
aku maunya apa (ngidam), bisa pulak kak jernih (tetangga ku yang sedang hamil
juga) dibelikkan mamak rambutan, karena berlebih datanglah mamak ditanyaknya ma
aku “mau kau rambutan?” tak maulah ku bilang, masak karena berlebih dikasih ma
aku” curhatan kakak ku setelah agak tenang
ke aku. “liatlah nanti gak mau aku ingat mamak pigi dia nanti”, “ya Allah
segitunya, mungkin ini karena emosi kakakku saja” pikir ku, aku hanya bisa
diam.
Sebenarnya
yang terjadi adalah ibuku menaruh perhatian yang tinggi ke kakak kedua ku
karena dia sedang hamil, ibuku takut kenapa-kenapa dengan kehamilannya dan
menjadi bahan permasalahan bagi mertuanya karena konteks pulang kampong itu
adalah mengantarkan orang tuaku pergi merantau. Dan untuk masalah rambutan yang
seharusnya tidak pantas dipermasalahkan. Kak jernih mengirim ke ibuku untuk
dibelikan ketika belanja. Karena harganya murah ibuku membeli agak banyak dan
tidak meminta uangnya kembali ke kakak itu. inilah wanita tak tau awag jalan
pikirannya.
Perpisahan
dimulai, kedua kakak ku terlebih dahulu berpisah karena waktu libur mereka yang
telah habis, sedih dan tangis pun keluar, peluk dan cium ibu ku diberikan ke
kedua kakakku. “maafin aku ya mak”, “iya mamak juga ya nak”. Setelah itu ibuku
memeluk dan mencium cucunya juga. “mak nenek gak ikut?”, “nanti nenek nyusul
nak” jawab kakak ku agar keponakan ku tidak merengek. “dadagh..” kata-kata itu
terakhir terucap dengan keponakan ku. Aku tidak ikut didalam mereka, aku masih
tinggal dikampung sampai hari kepergian ibuku ke bogor mendekat karena aku sudah
tidak ada urusan apa-apa lagi di medan hanya urusan untuk menanggalkan
pengangguran saja.
Lama
kami berlibur dikampung, hari itu pun mulai mendekat hari dimana perginya ibuku
dan abang-abangku yang ikut serta dimobil pick up paman ku (pergi dari
penyabungan ke bogor dengan pick up). Beberapa hari sebelum itu aku diantarkan
ibuku ke terminal untuk pulang ke medan. Dengan menggunakan becak, kami pergi
berdua dari desa ke kota penyabungan tempat terminal itu berada. Tidak ada satu
kata pun terucap dari mulutku. Apa yang terjadi kemarin dan perpisahan ini
membuat dadaku sesak. Aku terus menahan tangisku hingga aku tak sanggup
berucap. Sampailah diterminal sambil memelukku “hati-hati kau disana nak ya,,
jaga diri mu baik-baik ya, sering-sering aja kau tidur di mesjid biar gak
suntuk kali kau di rumah”, aku hanya bisa mengangguk karena tangisku akan keluar jikalau aku bicara dan
aku tidak mau membuat ibu ku bersedih. “Mamak pulang ya” tinggal lah aku sendiri diterminal melamun
memikirkan hidup dengan tidak ada mamak di rumah.
Komentar
Posting Komentar