Langsung ke konten utama

Mak aku di terima Part 1

Mak aku di terima  
Ujian Nasional telah berakhir, namun kami anggota black n white community masih tetap terus datang ke sekolah kami tercinta MAN 2 Model Medan. Terlihat didepan kelas sekelompok anak-anak membungkukan diri dengan menggerakkan sebuah pinsil membentuk bulatan-bulatan kecil di atas kertas khusus yaitu formulir pendaftaran sleksi masuk perguruan tinggi. Memang sudah sepantasnya kami memikirkan masa depan dengan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi atau apalah solusi dari pemikiran masing-masing. Aku termasuk salah satu anggota kelompok dari sekelompok anak-anak tadi namun aku tidak mengerjakan kewajibanku sebagai anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas pembulatan dengan pinsil karena memang aku tidak ikut mendaftar ke perguruan tinggi, dengan mengikuti simulasi di salah satu bimbingan belajar sudah memiliki kepuasan tersendiri bagiku.
Harapan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi ku urungkan niatku, dengan melihat segala aspek yang ada pada diriku termasuk aspek ekonomi keluarga. Untuk sekolah saja aku diberikan Allah rizki dari orang lain sehingga aku bisa terus bersekolah. Orang lain itu adalah abangda Herry ramadhan seorang pegawai perpajakan di Dept. keuangan,  ialah seorang motivatorku yang terus mengajak aku untuk malanjutkan ke STAN. STAN lah harapanku dengan melanjutkan kesana aku bisa terus melaksanakan proses pendidikan formal dikarenakan tidak dipungutnya biaya untuk menuntut ilmu disana. STAN, STAN, STAN hanya itu yang dipikiranku, sekarang pasalnya ada salah satu alasan lagi pemicu aku untuk terus kesana yang akan ku ceritakan di paragraph selanjutnya.
Masa-masa ini adalah masa yang tersulit bagi keluarga kami. Pasalnya keluarga kami yang memiliki single parent ini otomatis menyandangkan gelar tulang punggung ke abang tertuaku. Namun pada masa inilah ia putus dari pekerjaanya dan merubah gelar menjadi pengangguran. Abangku yang kedua entah apa yang ada didalam pikirannya hinga dua tahun sudah (dihitung setelah tamat SMK) ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Dan aku yang baru tamat sekolah akhirnya terseret juga dalam masalah di Negeri kita ini yaitu pengangguran, jadilah satu rumah itu pengangguran. Kami hanya bertahan hidup dari bantuan kakak tertua ku.
Tidak tahan dengan situasi seperti ini abang tertuaku beranikan diri untuk mengadu nasib ke kota lain. Oleh karenanya dengan mendengarkan beberapa usulan dari keluarga kami, dia berniat untuk membuka usaha dagang yang akan dimodalkan pamanku di Kota Bogor dan hasilnya dibagi sesuai dengan perjanjian. Akhirnya dia menjual keretanya sebagai modal untuk kesana. Abangku tidak sendiri ia pergi dengan ibuku sebagai juru bicara  ke pamanku dan abang kedua yang tidak tahu aku apa pemikiranya ikut-ikutan nebeng kesana dengan alasan mencari pekerjaan disana.
Aku disini hanya terus berusaha agar lulus ke STAN dan inilah pemacu kedua ku, dengan lulusnya aku di Sekolah Tinggi tersebut aku akan masih bisa berjumpa dengan  orang tua ku karena dalam pikiranku tanggerang bogor jaraknya tidak terlalu jauh.
Membahas soal, itulah yang selalu ku kerjakan setelah tidak ada lagi beban dari sekolah. “gak usah kau belajar terus, nantik gilak kau”, inilah kata-kata yang pernah terucap orang tuaku karena aku terus membawa buku kumpulan soal dan terus membahasnya walaupun sedang di depan TV. Aku sendiri tidak tahu mengapa bahasa inggris yang menjadi pelajaran terfavorit kedua setelah matematika (ketika aku masih SMP ) sungguh tidak ada daya tarik lagi untuk dibahas.
Hari ini adalah hari dimana ujian saringan masuk dilakukan serentak di Indonesia. Dan aku mendapatkan tempat ujian di Unika ST. Thomas. Setelah satu hari sebelumnya kami (aku & taufik teman satu sma) meninjau tempat. Aku berangkat dengan abangku pagi-pagi betul agar aku bisa mempersiapkan mental dan tidak terlambat jika dengan angkutan umum. “anak STAN semangat ya.. aku yakin kau pasti bisa”, tulisan ini muncul sebagai pesan masuk di hand phoneku dengan senyum haru aku membalasnya “makasih ya kawa-kawan” . Ujian dimulai, aku mendapatkan tempat duduk yang tidak bermeja, berjam-jam tengkuk ku menunduk karena menjawab soalnya. “Wuih ngeri kali ah soal nya”  pikir ku, dengan semangat aku mengerjakan soal TPA hingga lupa atau dilupakan, waktu untuk bahasa inggris sedikit tersisa.
Rasa mual, kepala pening aku rasakan setelah selesai ujian, turun dari angkot badan ku sudah tidak stabil untuk berjalan. Sampai dirumah aku pun langsung tertidur dan terdengar lebay tapi inilah kenyataan, aku pun demam beberapa hari.
Menunggu kelulusan  dengan harapan lulus  itulah yang aku kerjakan mengisi masa pengangguranku, ketepatan masa menunggu itu adalah bulan ramadhan sehingga aku pun disibukkan dengan berbagai kegiatan dimesjid. Waktu untuk pengumuman adalah beberapa minggu sebelum lebaran yang mana setelah lebaran aku akan berpisah dengan orang tuaku baik itu aku lulus maupun tidak.
Kala itu pengumuman untuk bea cukai diumumkan terlebih dahulu, dengan seksama aku gerakkan kursor ke nama yang tertera dilayar computer tersebut. Deg deg, serrrrr namaku tidak ada, aku tidak lulus bea cukai, “ya Allah semoga aku lulus di akuntansi Negara”.  Beberapa hari kemudian datanglah sms dari sukma (teman dekat ku di sma) “man si amri lulus, kau juga?”, DEGG,, bunyi jantungku ketika aku melihat kalau aku lulus, aku bergegas ke warnet ternyata tidak ada nama ku begitu juga amri, ku baca lagi smsnya ternyata ada tanda tanya untukku. Kulihat dengan seksama satu persatu hingga kejurusan lain pun aku lihat ternyata tidak ada yang mau menuliskan namaku disitu padahal tidak ada susahnya menuliskan Abdurrohman lubis disitu.
 Ada kejadian lucu, semua anggota kelas kami heboh sampai ke orang tua nya, dikarenakan sms si amri ke latifah “ horeeee aku lulus di kebendarahan Negara”  dan langsung disebarluaskan ke seluruh anggota BWC, tidak masalah untuk tersebar pada anggota BWC namun di karenakan ada orang tua temanku di BWC yang menjadi guru di MTs-nya tersebarlah bahwa si Amri lulus STAN disana, sehingga si amri pun dengan malu harus datang dan menegaskan apa yang terjadi.
Hari metamorphosis datang, keluarga kami yang mengadukan nasibnya ke kota orang ini mulai menggerakkan niatnya. Ibu dan kedua abangku pergi ke bogor untuk berdagang setelah selesai lebaran. Sehingga kami berinisiatif pergi berlebaran kekampung dahulu satu keluarga lalu berpisah disana. Pergilah kami dengan memesan tiket bis ALS. Semua keponakan ku turut gembira kerena inilah kali pertama mereka pulang kampung.
Berjam-jam kami menunggu bis nya datang, kami pun sudah mulai capek dan bosan. Terlihat dari kejauhan bis yang kami tunggu datang. bis yang datang itu ternyata berbeda sekali dengan apa yang kami harapkan bis ALS diganti mereka dengan bis mahasiswa dari universitas swasta mana (saya lupa) yang pengap dan sempit.
            Satu syawal adalah hari yang paling tepat untuk bermaaf-maafan, namun hal ini berbeda apa yang terjadi dengan kami. Selesai shalat idul fitri kakak tertua ku duduk melihat kami bersalam-salaman dan tak lama kemudian dia pun meraung-raung, aku tidak tahu apa yang terjadi kami semua pun bingung. “kenapa kau nak e..?” kata ibu ku, “ mamak gak pernah sayang ama ku” dia nangis meraung-raung, “ kok gitu pulak pikiran mu”, ternyata kakak tertua ku cemburu melihat perhatian lebih yang diberikan ibu ku ke kakak kedua ku yang sedang hamil.
            “aku merasa gak pernah disayang sama kelen, cobak kak deli heboh kali mamak, di bis ketawak-ketawak klen, aku kesusahan mangku anak-anakku, tak ada len yang mau bantu, aku dulu hamil gak pernah diperhatikan mamak, gak pernah ditanyak mamak aku maunya apa (ngidam), bisa pulak kak jernih (tetangga ku yang sedang hamil juga) dibelikkan mamak rambutan, karena berlebih datanglah mamak ditanyaknya ma aku “mau kau rambutan?” tak maulah ku bilang, masak karena berlebih dikasih ma aku”  curhatan kakak ku setelah agak tenang ke aku. “liatlah nanti gak mau aku ingat mamak pigi dia nanti”, “ya Allah segitunya, mungkin ini karena emosi kakakku saja” pikir ku, aku hanya bisa diam.
            Sebenarnya yang terjadi adalah ibuku menaruh perhatian yang tinggi ke kakak kedua ku karena dia sedang hamil, ibuku takut kenapa-kenapa dengan kehamilannya dan menjadi bahan permasalahan bagi mertuanya karena konteks pulang kampong itu adalah mengantarkan orang tuaku pergi merantau. Dan untuk masalah rambutan yang seharusnya tidak pantas dipermasalahkan. Kak jernih mengirim ke ibuku untuk dibelikan ketika belanja. Karena harganya murah ibuku membeli agak banyak dan tidak meminta uangnya kembali ke kakak itu. inilah wanita tak tau awag jalan pikirannya.
            Perpisahan dimulai, kedua kakak ku terlebih dahulu berpisah karena waktu libur mereka yang telah habis, sedih dan tangis pun keluar, peluk dan cium ibu ku diberikan ke kedua kakakku. “maafin aku ya mak”, “iya mamak juga ya nak”. Setelah itu ibuku memeluk dan mencium cucunya juga. “mak nenek gak ikut?”, “nanti nenek nyusul nak” jawab kakak ku agar keponakan ku tidak merengek. “dadagh..” kata-kata itu terakhir terucap dengan keponakan ku. Aku tidak ikut didalam mereka, aku masih tinggal dikampung sampai hari kepergian ibuku ke bogor mendekat karena aku sudah tidak ada urusan apa-apa lagi di medan hanya urusan untuk menanggalkan pengangguran saja.

            Lama kami berlibur dikampung, hari itu pun mulai mendekat hari dimana perginya ibuku dan abang-abangku yang ikut serta dimobil pick up paman ku (pergi dari penyabungan ke bogor dengan pick up). Beberapa hari sebelum itu aku diantarkan ibuku ke terminal untuk pulang ke medan. Dengan menggunakan becak, kami pergi berdua dari desa ke kota penyabungan tempat terminal itu berada. Tidak ada satu kata pun terucap dari mulutku. Apa yang terjadi kemarin dan perpisahan ini membuat dadaku sesak. Aku terus menahan tangisku hingga aku tak sanggup berucap. Sampailah diterminal sambil memelukku “hati-hati kau disana nak ya,, jaga diri mu baik-baik ya, sering-sering aja kau tidur di mesjid biar gak suntuk kali kau di rumah”, aku hanya bisa mengangguk karena  tangisku akan keluar jikalau aku bicara dan aku tidak mau membuat ibu ku bersedih. “Mamak pulang ya”  tinggal lah aku sendiri diterminal melamun memikirkan hidup dengan tidak ada mamak di rumah.

Komentar