Oomaaann main yukkkk….?
Terotak dari cerita tadi bersama
kawan-kawan kampus. Dahulu kala jauh beribu tahun sebelum masehi dimana kami
masih menjadi anak-anak yang hampir seluruh aktivitasnya bermain. Pergi ke
sekolah di pagi yang segar, biasanya aku berdiri di depan rumah teman ku, atau
temanku yang berdiri didepan rumahku untuk menungguku bersiap, setelah itu
pergi bersama-sama jalan kaki kesekolah di hiasi tokok-tokok-an yang diwarnai canda tawa. Sampai disekolah belajar,
di jam istirahat kumpul bersama kawan main pecah piring, engklek, kwaci, karet,
guli, bengek, rondok lidi, atau banyak lagi permainan-permainan lainya yang ditemukan
oleh anak-anak jenius seperti kami.
Sepulang
dari sekolah jalan bersama lagi sambil bermain dengan berlaga menjadi personil
dari pertualangan amigos, yaaa gk usah ditanyak lagi kalau dibilang petualangan
amigos pasti akulah yang menjadi pedronya.. secara… sampai dirumah makan sambil
menyetel film hutchi anak sebatang kara, amigos, maria belen, jono dan johan,
capten tsubasha dan lainya yang ditayangkan dijam yang sama namun bergantian,
jadi pokoke setiap pulang sekolah harus didepan TV dulu baru pergi ngaji.
Allahumal
hamna bil Qur’aan. Setelah ngaji masih ada kesempatan untuk main. Main sama
kawan main lari-larian yang biasa dibilang alip semberlang, main alip berondok,
bata lion, atau menggunakan media permainan seperti gambar cas, kwaci, guli,
(kalau lagi musim) atau permainan yang kami buat sendiri yang bernama “belum
ada nama” (karena pasti kami rebutan untuk mengakui siapa yang pertama kali
membuatnya) yaitu tutup botol yang ditokok hingga permukaanya rata yang dijadikan
gambar cas atau menjadi senjata ninja-ninja-an.
Malam
harinya masih tetap juga main. Kalau tidak sempat main semberlang sepulang
ngaji, kami biasanya mainnya ketika malam tiba. Ternyata malam memang membawa
sensasi sendiri, harinya yang tidak terik mendukung kami untuk terus bergerak
lincah, berkeringat dan tidak banyak orang lalu-lalang sehingga puas kemana pun
untuk lari. Kenikmatan persahabatan juga terjadi ketika mati lampu datang.
Pasalnya mati lampu membawa anak-anak untuk keluar rumah sehingga semua anak
kumpul untuk bercerita. Belum lagi kalau hari libur tiba. Dari pagi sampai
siang semua anak tidak ada yang keluar rumah karena semua menonton film kartun
kesayangannya dirumah masing-masing. Setelah itu barulah berkumpul bersama
untuk menceritakan film yang baru
ditonton tadi.
Sayang sekali
jikalau membandingkan masa-masa kecil saya yang begitu indah dibandingkan
dengan anak-anak zaman sekarang. Anak zaman sekarang yang aktivitasnya, pagi
sekolah, siang Bimbel, malam privat sungguh hal yang memprihatinkan menurutku.
Masa kanak-kanak adalah masa rasa ingin tahu yang paling besar, masa belajar
yang paling baik. Namun sekolah bukanlah tempat yang menyediakan semua itu,
sekolah sering sekali mencekokin semua pelajaran yang belum ingin diketahui
oleh anak-anak dan belum masanya untuk ditumpahkan kepikiran anak-anak sehingga
rasa ingin tahu mereka tidak lagi terangsang.
Sedih
rasanya jika membandingkan permainan anak zaman sekarang yang hanya duduk diam
didepan layar kaca monitor. Tidak ada imajinasi, tidak ada media untuk melatih
ketangkasan, apalagi sikap bekerja sama
dan mengenalkan arti persahabatan kepada mereka. “Be Selfish” inilah yang diajarkan kepada anak-anak zaman sekarang,
bagaimana tidak, dengan sendiri mereka bisa bermain point blank, dengan sendiri
mereka bisa bermain ipad dengan sendiri mereka bisa menghilangkan kejenuhannya
dengan mengotak atik handphone. Sayang ya…
Anak zaman sekarang banyak sekali
disuguhkan yang seharusnya belum pantas disuguhkan untuknya. Terlihat dari
tayangan-tayangan televisi yang tidak lagi menayangkan film-film mendidik
seperti jono dan johan, keluarga cemara atau film-film kartun yang
mengembangkan imajinasi mereka. Mereka dicekokin tayangan sinetron yang saling
bunuh-bunuhan karena ingin mendapatkan cintanya atau film terbang-terbang
seperti tendangan si midun yang aku sendiri masih belum dapat atas jawaban ini
“apakah si madun pemain silat atau pemain bola?”, jogged-joged gak jelas hampir
di seluruh program TV, atau yang paling menjijikkan film-film di ind*siar.
Seharusnya
masa kanak-kanak itu memang harus dihiasi dengan rutinitas bermain dengan teman
sebayanya, karena selain dengan bermain
mereka mengasah otak untuk berpikir kreatif, mereka juga menemukan arti kerja
sama, kesetia kawanan dan yang paling penting mereka menyadari bahwa kita tidak
bisa hidup sendiri.
Komentar
Posting Komentar