Langsung ke konten utama

Ubi talas in memoriam

            
Ubi talas in memoriam
Suasana pagi yang menghilangkan mood untuk terus menghadapi hidup (anak alay berkata), pagi dimana ketika kau membukakan matamu dari lelapnya tidur hingga kamu tak sadar bahwa sedari tadi telah lama seseorang yang kamu cintai, emakmu, telah memanggil-manggil untuk sholat subuh hingga mungkin subuh pun tak ada lagi karena sudah jam 7 pagi. Jika usaha untuk memangil dengan lemah lembut tidak berhasil barulah keluar suara 9 oktav yang menusuk-nusuk jantungmu. Tidak hanya sekali saja suara 9 oktav itu akan menusuk-nusuk jantungmu berkali-kali. Emakku ini kalau udah sekali marah apa pun yang kita lakukan akan membuatnya terus marah hingga satu harian mungkin (aku bilang mungkin karena aku biasanya pergi ntah kemana kalau udah kayak gini). Bayangkan selama satu harian mendengarkan suara 9 oktavnya.
            Pagi itu dimana aku pertama kali membukakan tirai pembatas pintu kamar dan ruang tamu langsung keluar kata-kata indah “man nanti antarkan mamak beli cabe ke depan arhanud ya ?”, ih baru bangun pun malesnya lah, pikir ku. “iya”. Aku hendak kekamar mandi untuk ambil air wudhu. “cepatlah kau sholat biar pigi kita”, “iyalah mak bentaaaar”, selesai sholat aku masih juga duduk didepan TV, “udahlah biar mamak naek angkot ajalah…” masih belum selesai mamak ku bicara aku jawab  “ih bentar lah mak ko heboh kali, mamak ni asal nyuruh harus cepat aja”, ujarku karena aku berpikir itu adalah sebuah tindakan merajuk,  yang biasanya hanya 9 oktav sekarang sampai menembus angka 10, bayangkan pemirsa-pemirsa 10 oktav suara dipagi hari, “biar tenang piginya gak diburuin abangmu yang mau pakek kereta untuk kerja, yang bagusnya mamak bilang udah merepet kelen”, “bukanya bilang dari tadi” pikirku. Akhirnya mamak ku pergi ke pasar dengan naik angkot, Alhamdulillah selama beberapa jam  rumah pun tenang.
            Aku ini memang anaknya pemalas kalau dirumah itu inginnya jangan ada yang ganggu, makanya mungkin mamak ku ngenes kali liat aku, setelah mamakku pulang aku langsung bergegas menyelesaikan apa yang dipesankan oleh mamakku, salah satunya merebus ubi talas yang tidak asing bagiku namun ntah aku lupa atau bagaimana, aku merasa itu pertama kalinya aku melihat dan memegang langsung. “untuk obat sakit gula” katanya.
            Setelah matang aku yang tadinya untuk memasaknya malasnya mintak ampun langsung berdiri mendekatinya. Aku kobekkan ubinya menjadi dua, lalu langsung aku santap. Ternyata ini bukanlah kali pertama aku memakan ubi talas yang direbus. Adegan ini mengingatkanku jauh kedalam bawah sadar ku jauh lebih dalam lebih dalam dan lebih dalam, seiring tepuk tangan penonton anda pun tertidur. Loh kok uya kuya pulak.
            Ubi talas itu mengingatkan ku jauh ke masa laluku, masa belasan tahun yang lalu ketika aku masih tahu kewajibanku hanya bermain. Aku teringat pertama kali aku memakannya ketika aku berada dirumah tetanggaku, tetangga yang pas sekali disamping rumah, bahkan kalian bisa bergantung masung dari jendela rumah kami ke jendelanya.
            Kita flashback  ke beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau unimed punya jargon character building mungkin bisa dibilang keluargaku punya jargon “Berjuang”. Banyak perjuangan yang telah dilakukan ayahku dan keluarganya untuk terus hidup berjuang di kota perantauan, untuk sementara akan kutuliskan secara singkat dicatatatan yang untuk iseng mengenang masa lalu ini. Setelah menikah dengan mamakku ayahku mengadukan nasibnya untuk pergi ke perantauan yaitu kota medan.  Entahlah mungkin gaji hasil dari menjadi guru di sekolah ngaji hanya cukup untuk makan berdua namun kurang untuk tabungan masa depan, seperti rumah atau apalah keperluan keluarga baru. Dengan menjual sebagian sawah sebagai warisan untuk ayahku, iya membeli becak dan mengalihkan profesinnya sebagai tukang becak, hanya dengan becak itulah, ayah hidup hampir dibilang gelandangan di kota medan. Beliau hanya memiliki becak, mencari nafkah dengan becak, makan dan tidur diatas becak, mandi dan mencuci pakaian di sungai deli dan menjemurnya diatas becak, hanya becak yang iya miliki di kota medan untuk mencari sebuah kehidupan yang layak, untuk emakku dikampung dan juga kehidupan anak-anaknya kedepanya. Aku berpikir apa yang terjadi dengan ku jika aku mengalami hal itu, dimana ayahku masih berusia 25 tahun. Mungkin aku akan naik keatas jembatan seraya berkata, “ya Allah kenapa kau tidak adil, ambil aku ya Allah. terus nyebur”, atau aku mungkin gabung ke sindikat perdagangan manusia dengan mendagangkan separuh dari badanku. (separuhnya lagi bukan manusia)
            Sekian tahun berjuang dengan becaknya akhirnya ayahpun pergi kembali kekampung untuk menjemput kekasihnya dan kembali lagi kemedan dengan kehidupan yang agak layak memiliki rumah walaupun masih menyewa. Telah banyak rumah yang disinggahi untuk mengarungi kehidupan, hingga kami pun kakak beradik tidak pernah lahir ditempat yang sama.
            Seperti aku sebagai anak kecorot (baca: terakhir bukan curut) lahir ditempat yang pertama kali disahkan sebagai rumah kami, rumah dengan dinding tepas dan lantai tanah. Rumah yang berangsur-angsur akan menjadi awal untuk menuju istana. Setelah menjadi sesepuh atau sebagai orang yang pertama menempati daerah tempat jin enggan membuang anaknya akhirnya daerah tersebut mulai diramaikan dengan menetapnya beberapa keluarga hingga menjadi sebuah perkampungan.
            Seiring mulai berkembangnya kehidupan keluarga kami mamak ku pun memutuskan untuk berjualan dengan membuka kedai rumahan didepan rumah kami. Kedai yang sangat membantu dalam prospek kehidupan ekonomi keluarga. Untuk soal hutang berutang aku yakin ini hal biasa yang dihadapai oleh seluruh pedagang di dunia ini. Namun persoalan kecil inilah yang menjadi persoalan yang membekas dihati seluruh personil keluargaku,  tak terkecuali aku si anank bungsu yang masih belum mengenal pacaran (ya iyalah masuk SD pun belum).
            Adiknya tetanggaku yaitu bibinya temanku sering berhutang dengan emak jikalau berbelanja. Oke fine, it’s no problem. Tapi dengan hutang yang lama tidak dibayar dan hanya datang ke kedai kami untuk berhutang bukan berbelanja siapa yang sabar. Akhirnya ketika temanku yang namanya ira datang berbelanja dengan uang yang agak besar, emakku pun memotong hutang-hutang yang menumpuk dengan uang yang seharusnya menjadi kembaliannya.
            Setelah itu cek-cok pun terjadi, tetangga yang super dekat ini berkelahi. Cek-cok mulut dari jendela ke jendela, aku yang masih kecil berdiri disamping mamakku seraya menyabarkanya. Dan akhrinya satu kata pun tidak pernah terucap diantara mereka. aku pun dilarang dengan kakak dan abangku untuk berteman, apa lagi bermain ke rumah ira, (ira itu teman tapi tidak terlalu akrab sih).
            Inilah anak-anak sudah seperti permainan yang namanya tidak kawan ini tidak kawan itu. masih ingat gak kalian kawan-kawan, lagu yang begini, “SKT medan belawan pagi-pagi mintak kawan”, ya aku gak ingat apa penyebabnya, mungkin karena memang aku salah satu anak-anak yang sering di SKT-in, pasalnya Gang itu dipenuhi dengan beberapa rumah tangga yang mulai dari cucu sampai kakeknya tinggal disitu sehingga aku yang bukan bagian dari sepupu atau saudara mereka sering sekali kena SKT, apalagi aku yang memang dari kecil keras kepala, punya prinsip, sehingga tidak mengikuti kata mereka. juga yang tidak termasuk satu keluarga dengan cucu, anak beranak dan kake berakek mereka, tetanggaku yang tepat berada disamping rumahku itu. jadi ya terpaksalah aku berteman dengan mereka.
            Karena takut ketahuan kakakku aku pun bergerak bersembunyi, menghendap-hendap kedalam rumah teman ku itu, ntah karena memang emaknya si ira yang baik atau tidak ingin memancing perkelahian lagi, aku di terima saja disana. Ketika bermain disana kebetulan sekali emaknya ira sedang merebus ubi, aku pikir ini adalah ubi rambat, dan aku pun mencicipinya, wah bukan, ini bukan ubi rambat, aku tidak tahu itu ubi apa hingga 15 tahun kemudian ketika memakan hasil rebusanku yang niatnya untuk obat sakit gula mamakku, disinilah aku tahu dan mengingat kembali masa kecilku. Masa dimana awal keluarga ku untuk berjuang terkhusus ke ayahku yang tidak hanya berjuang untuk menghidupi keluarganya namun juga berjuang untuk melawan penyakitnya. Nanti akan ku ceritakan, insyaallah di novelku kemudian hari, aku ingin semunya tahu tentang perjuangan ayahku, keluargaku dan aku. Kesuksesan itu ibarat naik gunung yang mana kesan paling indah itu ketika berusaha untuk menaikinya.

Komentar