Langsung ke konten utama

Kekuatan Nazar (Palembang)

Kekuatan Nazar (Palembang)

“Proposalnya mau diambil lagi ?”, “iya”, “cetassss” terdengar suara sobekan kertas disposisi yang lengket dengan dihekter ke proposalku, sobekkan kertas tadi ternyata membuat luka dihati ini (kalimat ini terinspirasi dari lagu dangdut), proposal untuk mengikuti kegiatan Global Peace Volunteer di palembang tidak di terima, aku pun turun dari lantai 2 ke lantai 1 tanpa semangat.
“gak diterima wey”, aku berkata dengan lesu kepada teman-teman ku yang telah menungguku dilantai bawah
“gak diterima men ?, kenapa ?” irul salah satu temanku menanggapinya.
“katanya gak bisa didanai kalau akhir tahun, mereka pembukuan”
“yaudahlah men,,, belum rezeki”, disambung oleh si jijah
“belum rezeki atau belum usaha jah”
“ih mau usaha apalagi kau, jangan kau kelilit hutang gara-gara ini ya,,,”, si jijah langsung marah dengaku
Aku tertunduk diam karena memang takut seperti apa yang dikatakan jijah, tapi aku merasa sayang jika aku tidak pergi ke sana, kota yang menurutku terbaik di pulau sumatera, kota yang mendekatkan diriku ke tempat yang sudah lama ada dibayanganku mulai dari sma dulu, karena aku sangat tertarik dengan buku-bukunya andrea hirata, Negri laskar pelangi. Kehidupan masyarakat melayu yang sering dibicarakan andrea hirata dan warung-warung kopi yang dibicarakanya seolah-olah melenggak-lenggok mempamerkan keindahanya seraya memintaku untuk mengunjunginya. Ditambah lagi karena adanya peserta dari Vietnam, togo, dan Malaysia serta isu yang ku dengar bahwa tahun depan Medan adalah tempat diadakanya GPV selanjutnya. Aku tidak mau menjadi peserta disini aku maunya menjadi panitia.
Sambil tertunduk aku mencari-cari cara bagaimana caranya untuk bisa sampai ke Palembang. Aku buka handphone searching di google prihal ongkos ke Palembang dengan naik bis. Melihat aku masih berusaha mencari cara untuk kesana jijah pun marah.
“udahlah gak rejeki men, kalau rejeki kanproposalmu diterima kayak kemaren”
“tapi sayang jah”
“ih kau mau kelilit hutang disana sini?, irul cobak kobilangin dulu dengan dia…”
“aku gak mau memutuskan semangat orang  jah”
Mendengar kata-kata irul seperti ada angin segar yang menghembuskan semangat ku namun smnagat itu tidak mampu membangkitkan keberanianku untuk pergi kesana.
Hari-hari menuju tanggal 19 desember dimana kegaiatan itu dilaksanakan ku lalui, ntah lah aku tidak tahu apa yang melanda hatiku semangatku seakan sirna. Mungkin benar seperti apa yang dikatakan irul, biasanya merasakan ramainya suasana posko PPLT sangat jauh dibandingkan dengan suasana liburan di rumahku yang sepi, hanya ada aku dan mamak di rumahku ini, dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain OL, aku sudah tidak nyaman lagi untuk bertekumpul bersama anak-anak muda di gang ini, apa yang mereka bicarakan aku sudah tidak bisa mengikutinya lagi, pasalnya aku tidak pernah bergaul lagi sejak SMA dulu yang disebabkan kesibukan masa-mas SMA dulu. Hilangnya semangatku mungkin bisa digambarkan dengan puisi yang aku tulis saat tak tahu harus berbuat apa lagi. (Kedengarannya macam mau bunuh diri ya)
kembali lagi aku bertanya
haruskah aku bangun dari tidurku ?
ribuan tetesan air yang mungkin sengaja
untuk menghambat gairahku
gairah, yang aku tak tahu dimana aku tinggalkan
gairah, yang mungkin malah tak ku punya
tak tahu apa yang harus aku lakukan
menatap matahari saja aku takut
ntah kemana kau target
kenapa kau pergi dari otakku ?
darimana saja kau sepi
kemarin aku mencarimu kau tak datang
akhirnya aku berteman dnegan musuhmu
lihatlah hasil perbuatanmu
aku terbuai
terbuai menyatakan diri menjadi yang tak berguna
kau lagi mimpi
kenapa daya tarikmu tak mampu lagi membopong tubuhku ?
kau kira hidup seperti ini gampang
hanya tidur diatas dipan
mampu namun tak mau
hanya melihat dari sela papan
            Untuk merayakan pertemuan kembali setelah tiga bulan berpisah disebabkan adanya PPLT yang mengharuskan kami mengajar ke luar daerah kota medan, jijah mengajak kami untuk pergi bertamasya ke micky holiday. Micky holiday adalah tempat seperti ancol di daerah dataran tinggi brastagi. Ajakan itu belum ku terima mentah-mentah, biaya untuk pergi kesana terlalu mahal bagiku, dari mana lagi aku dapat uang, untuk yang seperti ini aku sangat enggan untuk minta uang ke orang tua, ditambah lagi aku yang masih berpikir untuk mencari dana ke Palembang, dengan bujukan mereka akhirnya aku memutuskan ikut pergi kesana.
            Hari dimana aku pergi ke micky adalah satu hari telah selesainya batas pembayaran registrasi, namun aku masih juga berharap, berharap mungkin aku betul-betul diperlukan panitia sehingga akan tertulis sms dari mereka “sudara abdurrohman lubis, segala yang anda perlukan untuk transportasi menuju ketempat acara akan ditanggung panitia”, namun ini tak akan mungkin terjadi. Cem hebat kali awag.
            Dengan berat hati, dengan uang seadanya menahan malu sebisanya, aku pergi dengan mereka. teman-temanku. Disana aku buang jauh-jauh rasa minder, aku bersenang-senang menikmati wahana dengan mereka. lagi asik terbang sana terbang sini, sms masuk dari bang sadam, abang stambuk ku, yang telah menjadi alumni GPV, “man panitia nanyak tu, kau jadi ikut gak”, kembali lagi angin segar menghembuskan semangatku. Sepulangnya dari sana mual di perut ku yang disebabkan wahana-wahana yang menyeramkan itu dan lelah bagaikan uya kuya yang sangat lihai membuat orang tertidur, separuh tidur aku masih memikirkan Palembang, sms dari bang sadam tadi masih juga terngiang di pikiranku. Aku tertidur, terbangun dan masih Palembang, “ya Allah kalau aku bisa sampai ke Palembang aku akan puasa satu minggu”, terucap nazar dihatiku. Aku pun tertidur lagi, bangunya aku dari tidur aku langsung berpikir kenapa aku tidak pergi dengan bis, kenapa harus sayang untuk mebgeluarkan uang, toh waktu ke Makassar kemarin banyak kawan-kawan mu yang biaya sendiri.  Masalah biaya kan bisa pakai uang beasiswa kalau keluar nanti. Aku sudah mulai meniatkan didalam hati untuk pergi ke Palembang, namun belum sepenuhnya. Hinga sampai di medan ketika kami makan malam bersama aku merasa mndapat dukungan karena kawanku menyarankan aku untuk naik bis saja. Didalam hati “ok aku pergi”.
            Malamnya aku beranikan diri untuk meminta hutangan kembali ke temanku yang namanya dian, aku sangat segan kepadanya, pasalnya aku baru saja mengembalikan uang yang ku pinjam kepadanya untuk pergi kemakassar kemarin dan aku masih punya hutang karena biaya PPLT yang menumpuk. Tapi inilah dian dia gak pernah berpikir negative, dengan senang hati dia memberikanya, lalu aku pinjam juga uang ke temanku fifah sebanyak kurangnya dari uang dian.
            Aku langsung telpon septi panitia kegiatan tersebut, “halo.. septi, saya abdurrohman lubis peserta dari medan, saya…..” belum selesai ngomong dia udah jawab, “oh abdurrohman, kok gak bisa-bisa aku telpon hand phonenya ?”, “@##$$@@###” aku bingung ini anak orang kok macam pacar aku aja marah HP nya gak di angkat “saya belum bayar uang registrasi boleh gak hari senin saya kirim”, “oh oke boleh”, “makasih ya septi”. Esoknya aku bayar uang registrasi, “kayak mana woy,,, tepatnya keputusanku ?”, “udah men, gak usah dipikirkan lagi duitnya udah kita kirim kesana”, akhirnya aku pun pergi dengan naik bis.


            

Komentar

  1. Keren,,,,,
    Dan di tunggu Yers di palembang lagi,

    BalasHapus
  2. hahahah lucu baca yang terakhir tentang tragedi telfonnya bang omen dengan kak @septi LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya aku kaget ternyata septi perempuan asalamualaikum juga...

      Hapus

Posting Komentar